Rabu, 19 April 2017

Mari, Bercengkrama Sejenak

Aku langsung saja
Tak bisakah?
Kita kembali seperti sebelumnya?
Menggelegarkan suara tawa

Aku minta waktumu yang sibuk itu sedikit
Waktu yang mungkin bahkan hanya secuil
Dari waktu ketika otakmu tengah sibuk merangkai kata
Untuk kamu bagikan bebas dengan dunia mayamu

Mari, kita bercengkerama sejenak
Kembali merapatkan diri
Melunturkan ego untuk siapa yang lebih dulu menyapa

Mari, kita atur kembali helaan napas yang sempat tersengal
Akibat emosi yang mengepul bersama jejak kesal

Hai, Kawan
Ada ego yang membuat bodoh
Ada amarah yang menelusuri pembuluh darah
Tapi, ada rindu yang lebih menggebu
Mengalahkan itu semua
Untuk tetap bersamamu

Hai, Kawan
Aku rindu
Mari kita bercengkarama sejenak
Aku rindu
Sungguh
Akuku tak tahu malu
Dihadapanmu

Bekasi, 18 April 2017
-sissy

Selasa, 18 April 2017

Semesta, Besok Pemilu!

Semesta,
Untuk kamu dibagian Jakarta

Semesta, besok pemilu
Putaran kedua
Kamu tentu sudah melihat
Riuhnya seperti putaran pertama

Ah! Kenapa mesti diputar dua kali?
Putaran sekalipun sudah cukup membuatku linglung
Yang satu menebar janji
Belum terbukti tapi ...
Yang satu membawakan bukti
Dan ... Ah sudahlah ...
Kamu sudah tahu, tentu saja

Semesta, besok pemilu
Aku harus bangun jam berapa?
Tidak bisakah waktunya ku gunakan untuk tertidur?
"Tidur saja, bila ingin Jakartamu pun dipimpin dengan yang suka tidur"
Tiba-tiba sisi lainku bersuara

Semesta! Besok pemilu!
Aku pilu
Membayangkan sendiri dibilik saksi bisu
Menggenggam selembar kertas berlipat bergambar empat orang
Harus ku hitamkan atau aku silangkan?
"Tentu saja kau contreng, Cinta" ada yang berteriak kembali
"Di-coblos lebih aman, Sayang" suara lembut mengalun

Semesta! Besok pemilu!
Ada yang bilang golput bukan solusi
Dua atau tiga?
Aku pilih delapan
Bulan lahirku!

Semesta, besok pemilu
Semoga Jakarta kami lebih baik
Termasuk manusianya

Semesta, besok pemilu!

18-08-2017 23.39 WIB -

Jumat, 17 Maret 2017

SISISE ?

Hai!

Akhirnya jebol juga tahun ini karena postingan sebelumnya.

Mau sedikit bercerita tentang mereka. Mereka yang kadang membuatku kecil. Membuatku seperti bukan siapa-siapa. Tidak tau apapun. Membuatku berpikir betapa kurangnya pemahaman ku tentang sejarah, politik, bola, kopi, bahkan reproduksi.

Dengan mereka, aku merasa benar-benar kecil. Merasa kurang dan tak ada yang patut dibanggakan.

Tapi, karena mereka. Aku merasa butuh memenuhi yang kurang. Aku merasa harus memperbaiki pemahamanku tentang apapun termasuk politik (yang selalu aku hindari). Bukan agar aku ikut campur, hanya sekedar tahu agar tidak semakin bodoh karena ketidaktahuan yang dibiarkan.

Karena mereka, aku harus melebarkan pandanganku yang tidak hanya seputar duniaku, tapi ada dunia yang lain yang harus kutahui untuk ku pedulikan. Kita hidup saling berikatan. Saling mempengaruhi satu sama lain. Kalau satu jomplang, yang lain bisa jatuh. Hidup harus seimbang.

Karena takdir, kami terbentuk meski belum pernah bertemu.
Hanya sebatas menatap layar ponsel masing-masing untuk kemudian membicarakan apapun. Dari yang serius seperti politik dikastil ini sampai yang awkward seperti dalaman. Iya dalaman. Entahlah, kami memang seajaib itu ..

Namanya, "Sider , Situ Sehat?"

Lucu. Tapi gak ketawa sih. Hehe

Kenapa namanya itu? Sebenarnya kami adalah hasil dari perpaduan dari makhluk-makhluk yang suka berbicara ditengah malam. Awal grup ini dari sebelah yang mungkin bisa dibilang kagum karena seseorang.

Kalau saja, aku waktu itu tidak gabung digrup
Kalau saja, aku tidak memberanikan diri untuk ikut berkomentar dikolom chat
Kalau saja, aku tidak ikut acara telfonan tengah malam
Kalau saja, aku tidak membuka suara untuk ikut bergabung obrolan
Kalau saja, aku menyerah dan keluar

Mungkin, aku masih dengan duniaku. Nyaman dan berkutat dengan permasalahan yang itu-itu lagi, tak terselesaikan, makin menganga.

Karena mereka, aku sedikit demi sedikit mengubah arah pandangku. Tak lagi hanya memakai kaca mataku. Tak lagi hanya memposisikan dari caraku. Mereka mengajarkan dengan caranya. Dengan lisan ataupun tindakan. Sesederhana itu.

Karena mereka, aku mencoba kembali suka dengan membaca, tak hanya novel. Masa lalu dan sistem demokrasi dikastil ini. Sepertinya, buku-buku tentang itu aku harus ikut memasukannya dalam daftar buku yang harus ku baca. Untuk memenuhi apa yang harus ku penuhi.

Ah! Rasanya aku jatuh cinta berkali-kali dengan mereka.

Dengan cara mereka memandang, mengungkapkan, bersikap. Aku seperti punya kesempurnaan karena mereka. Mereka ada untuk melengkapi-ku. Haha. Dibilang lebay pasti.

Hai,
Uninov, perempuan yang satu-satunya aku panggil uni karena kita satu kampuang haha. Terima kasih uni sudah mau dipanggil uni

Hai,
Ka Hisni, sikembar pipi. Entah kenapa aku senang memanggilmu ka hisni, itu seperti kesatuan. Padahal kita hanya beda beberapa bulan.

Hai,
Bang Aris, satu yang selalu ku ingat, suara kaleng-kalengmu ketika kita bercengkerama via gelombang

Hai,
Abileupilkuh, makhluk yang mungkin kita sama, sama-sama hidup dengan ketidakjelasan hahaha

Hai,
Kang Abii, bapaknya kita semua haha canda kang. Terima kasih kang buat cerita-ceritanya yang selalu kang Abii bagikan untuk kita. Karena itu pengetahuanku bertambah. Alhamdulillah

Hai,
Karetakuh, sosok perempuan yang kembali mengajarkanku, untuk coba memahami, dan jangan pergi

Hai,
Mba Andin, entah kenapa setiap melihat namamu dan rentetan kalimat yang terukir dikolom chat kita, aku merasa mba Andin sederhana. Iyakah? Kalau iya, aku suka. Aku selalu suka dengan kesederhanaan

Hai,
Kaim, ka ima sang penyiar yang suka kita gangguin kalau lagi siaran haha. Terima kasih kaim secara tidak langsung kaim mengajariku sesuatu

Hai,
Mifta, anak sd. Tiap liat foto kamu aku ngerasa kamu masih pakai seragam merah putih bukan seseorang yang sedang menyusun skripsi haha

Hai,
Kang Aenur, meski jarang muncul, tapi sekalinya muncul membawa ilmu, terima kasih kang. Tapi, aku masih tidak paham dengan rumus perkalian tentang usia reproduksi yang pernah kang aenur jelaskan

Nah kan? Bahkan tentang reproduksi pun kita membahasnya. Aku bilang ini aku bisa jatuh cinta berkali-kali dengan mereka ya karena mereka adalah mereka. Dengan sejuta keajaibannya haha.

Dan ...

Hai,
Babang Tama, sianak bocah yang terlihat tidak seperti bocah. Terima kasih, sudah selalu menjadi penghibur dikala lara. Halah. Be brave, be strong, be a good man tam bukan boy haha (ngomongnya ala mamanya munel). Semoga cintamu bahagia diakhir. Aamiin

Hai,
A Lutfi, aku bingung mendeskripsikannya. Jarang muncul sih. Tapi sering update ig. Huft. Tapi, ada satu yang ku kagumi darimu a, saat kamu bilang akan mengajar ngaji. Ah! Rasanya aku mau ikut ada disana. Tempat yang pernah kamu kirimkan fotonya. Ikut belajar dengan mereka.

Hai,
MyNuy, princess of qtang haha. Keapa-adaanya kamu mengajarkanku meski jauh. Bahwa sesekali kita tidak harus selalu jaga image. Cukup tahu tempat dan situasi. Tapi, bersama kalian aku polos. Kalian serasa nyata.

Hai,
Ka Ece, partner profesi aku jarak jauh. Jadi bidan mengagumkan kan ka? Hehe semoga setiap langkah ka ece selalu didukung sama ibu, bapak. Aamiin

See? Jatuh cinta terkadang tidak melulu soal mata, tapi rasa nyaman lebih utama. Mengenal mereka adalah keajaiban. Jauh tapi dekat. Serasa keluarga. Awalnya curhat sedetik kemudian bisa berubah serius berdiskusi tentang penyakit dikastil ini. Atau sebaliknya, sedang berdiskusi serius bisa melenceng jauh ke hal absurd yang tak terduga.

Haisss, banyak. Akhirnya rampung juga. Tetap ajaib, Kawan!
Sekian dan terima kasih.

Sider, Situ Sehat?
Bolehkah aku menyingkatnya jadi SISISE? haha. Aku penasaran bagaimana kita bertemu nanti? Entah ... Kapan ...
Semoga tidak sementara dan semoga Allah ridho. Aamiin ...