Kamis, 18 September 2014

Maukah Kau Menunggu ?

Menurutmu ? :) 
Sekarang aku baru semester tiga. Hampir setengah jalan ku lalui di jenjang yang buru-buru ingin ku lewati. Sudah terlalu lama ku mengabaikanmu, mengabaikan kesempatan untuk mengenal lebih tentangmu. Pagi ini aku baru mengenal salah satu sahabatmu, salah satu pengagummu yang mengagumkan. Bung Fiersa, sapaannya. Jujur, aku kembali semakin jatuh cinta denganmu. Niatku semakin lebih naik ketika salah satu pengagummu menceritakkan sosokmu lebih lagi dari yang ku tahu.

Satu setengah tahun lagi kurang lebih. Ku ingin mengikuti langkahnya. Tapi, anganku sempat dibuat bingung, apakah kamu bisa menunggu? Sehari pun bisa menjadi sangat lambat untuk menunggu apalagi ini tiga ratus enam puluh lima hari ditambah enam bulan dikali tiga puluh hari. Aku takut, takut kamu tak bisa menunggu terlebih waktu tidak berpihak pada kita, padaku yang semakin jatuh cinta dan penasaran akan pesonamu.

Entah, akan terwujud atau tidak. Semoga iya. Aamiin. Akhir tahun ini aku ingin menemuimu. Aku sudah mendapatkan ijin dari mereka walau belum sepenuhnya. Tapi bisa ku pastikan aku akan mendapatkannya. Tunggu aku. Semoga semesta milikku. Aamiin. Akan ku abadikan sesuatu bersejarah itu, dalam bentuk apapun

Dari pengagummu yang lebih dari kagum yang kini berada diantara gedung-gedung pencakarmu.

Senin, 25 Agustus 2014

Tak Perlu Ada Yang Berubah

Menurutmu ? :) 
Tak Perlu Ada Yang Berubah

Setiap hal selalu mempunyai dua sisi seperti uang logam. Dan setiap tindakan selalu ada feedbacknya. Hukum alam.

Dua puluh satu, delapan, bulan tanpa matahari. Terima kasih.

Aku pernah membaca suatu kalimat dalam novel "seberat apapun itu, sepahit apapun, ungkapkan saja" dan "yang orang dewasa butuhkan adalah keberanian". Mungkin aku belum sepenuhnya dikatakan sebagai manusia dewasa, tapi setidaknya aku sudah membuktikan kalau aku mempunyai keberanian. Termasuk dua malaikat yang selalu menyentil aku dengan kalimatnya "kalau sayang sama orang itu bilang, jangan dipendam sendiri". Dan ternyata memang nyatanya ini tentang sebuah keberanian. Keberanian memendam atau mengungkapkan. Menjadi pecundang yang hanya diam memandang atau bukan.

Menurut salah satu buku lainnya yang pernah ku baca, menulis adalah self therapy tersendiri bagi yang menulisnya. Dan menurutku itu benar. Aku menulis maka aku merasa. Aku menulis maka aku ada. Entah.

Terima kasih selama ini telah menjadi alasan ku untuk tetap menulis. Membekukan momen dalam setiap rangkaian abjad. Aku menyadari selalu ada puan-puan baru yang akan menggantikan puan yang lama dalam setiap kisah. Termasuk kisahmu.

Tak perlu ada yang berubah. Semoga kenyataan seperti itu.

Sebuah kalimat yang menyadarkan bahwa aku bukan anak perempuan pada tujuh tahun yang lalu.

Minggu, 17 Agustus 2014

(Bukan) Takut Kehilangan

Menurutmu ? :) 
Lagi-lagi dan lagi dan mungkin akan lagi tentangmu yang akan terus menjadi tokoh utama dalam setiap keberanianku menggenggam dalam tulisan.

Entah, sudah berapa banyak air mata yang tumpah disertai rasa sesak didada untuk minggu ini yang akan kamu gak pernah tau. Sebenarnya aku juga lelah mengumpat pada rasa yang berujung cuma pada air mata.

Ini tentang berani menyampaikan atau berselimut pada takut "kehilangan". Haha kehilangan? Padahal dulu hal itu pernah terjadi meski penyebabnya bukan. Jadi jelas disini bukan aku takut kehilangan tapi apa? Aku juga tidak tau. Tidak tau apa yang sebenarnya aku pertahankan untukmu? Rela menangis atau menahan sesak.

Tak berani mengungkapkan? Karena takut kehilangan?
Bukan, bukan itu juga menurutku. Lantaa PPa? Aku juga selalu berpikir tentang mengungkapkan atau memendam. Terkadang tidak ingin menjadi pengecut yang ada dibalik keinginan untuk mengungkapkan. Tetapi dilain hal, aku ingin menjadi Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib yang keduanya tak pernah mengungkapkan tapi berujung penyatuan. Dan aku juga sadar, aku dan kamu bukan mereka. Ya aku tau itu.


Aku takut menyesal. Iya itu yang aku takuti sebenarnya. Aku takut ketika keberanian mendorongku mengungkapkan taunya rasaku adalah semu. Sebuah obsesi anak berseragam putih abu-abu pada teman sekelasnya.