Rabu, 16 Agustus 2017

Fobia Bukan Lelucon!

Fobia Itu Bukan Lelucon !

Fobia adalah rasa takut berlebihan pada suatu objek atau situasi tertentu. Yang bisa menyebabkan depresi, kecemasan atau bahkan kepanikan yang parah. Fobia dibagi menjadi dua jenis menurut ketakutannya :
1. Fobia spesifik, yang berkembang sejak masa kanak-kanak atau remaja.
2. Fobia kompleks, berkembang di masa dewasa.
Selain gejala psikologi, menurut sumber yang saya baca fobia bisa berdampak pada keadaan fisik, seperti disorientasi, pusing, mual, tubuh gemetar, telinga berdenging, bahkan sampai terasa sesak napas. (Sumber : alodokter.com)

Kenapa saya menulis ini? Karena menurut saya perlu. Saya sendiri adalah salah satu yang memiliki fobia dan itu sangat mengganggu. Ya kan? Apalagi ketika teman - teman kamu tahu kalau kamu memiliki fobia akan satu hal yang pada akhirnya mereka jadikan lelucon.

Percayalah, untuk kalian yang mengganggap fobia itu sebuah lelucon dan jadi bahan tertawaan kalian. Hilangkan! Untuk kalian itu mungkin sangat lucu, melihat teman atau orang lain menjerit ketakutan atau bahkan gemetar dan keringatan. Tapi sekali lagi, ini bukan lelucon. Kondisi itu bisa menjadi lebih seperti sesak napas dan akibatnya? Kalian tentu paham. Dan itu karena kalian.

Kalau kalian pikir, fobia adalah hal yang dibuat - buat. Silahkan kalian alami sendiri bagaimana rasanya punya fobia akan suatu hal. Bukan, bukan maksud saya menyerapahi agar itu berbalas ke kalian. Tapi, cobalah berempati. Kalau kalian tidak bisa menyembuhkan, jangan memperparah.

Saya menulis ini, karena jujur sudah lelah memberitahu mereka yang menurut saya "lebih memahami" tapi ternyata paling sering. Saya lelah memberitahu mereka sebagaimanapun pelan dan kerasnya saya memberitahu. Saya lelah mencoba menyampaikan bagaimana kondisi saya yang sebenar - benarnya ketika mereka melakukan itu. Di dalam tubuh saya menjerit - jerit, yang cuma bisa terdengar oleh telinga kepala saya.

Mereka, seperti tidak tahu, atau memang tidak tahu atau pura - pura tidak tahu. Mereka terlalu asyik dengan menjadikan "fobia" salah satu alasan mereka tertawa. Seberapa keraspun saya meneriakan didepan mereka bahwa "gue takut! Ini gak lucu! Ini fobia! Bukan takut biasa! Gue juga gak mau kaya gini. Ngertiin tolong! Stop! Aaaaak!" Mereka hanya tahu, ketika saya seperti itu mereka tertawa. Mereka tidak tahu malamnya saya tidak bisa tidur, karena timbul bayangan - bayangan pada objek yang saya hindari, pun saya coba menutup mata atau membuka mata. Sama saja. Dan setelah itu, tangan saya gemetar, jantung saya berpacu lebih cepat, dan keringat mengucur.

Hai, Kawan! Percayalah. Fobia bukan lelucon ...

Bagaimana lagi saya harus menjelaskan? Jangan membuat saya jadi menghindari kalian atau bahkan unrespect hanya karena hal yang bisa kalian tahan. Ini fobia dan bukan lelucon!


-salam Sissy
Saya menulis ini bukan karena bangga memiliki fobia, tapi tolong pahami kami-bersama-fobia-kami yang sedang berusaha untuk disembuhkan.

Sabtu, 05 Agustus 2017

Assalamualaikum, Kamu!

Assalamualaikum, Kamu!

Assalamualaikum, Kamu
Kamu yang kelak menjadi Imamku. Menjadi penggenap separuh agamaku. Sedang dimana kamu? Sedang apa?

Entah, kenapa tiba - tiba perasaan rindu ini menelusup hadir tanpa ancang-ancang terlebih dulu. Tetiba aku ingin menyampaikan -aku - mencintaimu - karena - Allah. Aamiin. Iya, untuk kamu kelak pendamping dunia - akhiratku. Aku mencintaimu karena Allah yang memberi rasa ini, rasa yang sudah ada sebelum kita bertemu sebagai sepasang manusia yang ditakdirkan berjodoh, yang sudah ada sejak kita belum dilahirkan dan ada di dalam Kitab Lauhul Mahfudz masing - masing.

Untuk kamu, yang kelak kita berbagi segalanya. Semoga kita dipertemukan dalam sebaik kesempatan dan dalam hati yang sudah tertaut. Semoga, ada aku dalam setiap percakapanmu dengan Sang Pencipta. Semoga, percakapanmu yang dijabah Rabbi untuk menguatkan aku di jalan ini. Bertahan dan perlahan terus memperbaiki diri dan hati. Sampai nanti. Sampai kita bertemu di masa depan nanti.

Untuk kamu, kelak teman sepanjang waktuku. Semoga Allah selalu ridho dan menuntun kita bertemu di jalan yang sama. Aamiin.


-05 Agustus 2017, ba'da dzuhur.
Merindu pada kamu, yang kelak akan menjadi sebenarnya tokoh di surat ini.

Wassalamualaikum Tampanku ...

_salam, pemilik bangku kirimu

Kamis, 08 Juni 2017

Insiden Telor Ceplok

Harusnya aku biasa saja
Harusnya aku tak perlu gugup
Hanya telor ceplok
Iya!
Telor ceplok
Yang biasa kubuat dengan segenap hati
Tapi, kala itu
Entah meluap kemana semua itu
Terisi dengan gugup bercampur garam dan bentuk yang absurd

Oh maaf, aku gugup, Puan