Jumat, 28 Agustus 2015

Surat Pertama Untuk Kamu

Menurutmu ? :) 
Untuk kamu, yang mungkin sekarang sedang siap-siap atau sedang berpacu dengan waktu menuju tempatmu hari ini.

Terima kasih pernah datang lalu mengajarkan. Meyakinkanku lebih tepatnya menambahkan keyakinanku. Bahwa semesta begitu banyak konspirasinya. Bahwa semesta bukan hanya tentang aku, sahabat-sahabatku, keluargaku, bahkan dia. Dalam semesta ini, kamu ada. Ada kamu. Yang mengajarkan padaku bahwa manusia-manusia bukan hanya makhluk-makhluk yang ku kenal selama ini. Ada juga kamu yang seperti itu. Mengajarkan padaku untuk percaya bahwa Tuhan menciptakan manusia tidak hanya satu. Ternyata ada manusia yang sepertimu, iya sepertimu. Tanpa ku jelaskan tentu kau tau maksudku. Terima kasih.

Dari dia yang kau bilang aneh.

Haha terima kasih. Sahabat-sahabatku pun lebih dulu mengiyakan. Itu aku.

Semoga kamu lebih baik dan bahagia:)

Mengenangmu

Menurutmu ? :) 
Beberapa bulan yang lalu..

Kau datang. Entah kau yang datang duluan atau aku. Intinya kita bertemu. Tak sengaja berbicara agar ada bukti bahwa kita memang mengenal. Tak lebih dalam. Kurang lebih selama sepekan kita bertukar sesuatu yang menurutku manis, indah. Kita terus seperti itu. Tak ada kata atau percakapan yang panjang. Hanya senyuman. Senyuman dan lagi. AH! Senyuman itu, lagi!

Sudah begitu saja berlalu..

Lalu ku pulang, pulang ke rumah karena jadwalku sudah habis. Melewati koridor gedung yang sama setiap harinya. Tapi kali itu beda, iya ada kamu. Sepertinya kamu belum sadar, kalau sedari tadi aku sedang menatapmu, dalam diam dan langkah yang tenang. Tapi, kamu terlihat buru-buru sampai kau sadar aku sedang berjalan hampir melewatimu, seketika tubuhmu yang begitu riuh kau hentikan dengan cepat, sedetik kemudian kau menoleh ke arahku, dan..menyapa. Aku tak bisa berkata apapun karena situasi kita bertemu tak nyaman, ada temanmu juga saat itu. Aku hanya senyum. Dan kamu juga. Senyum lagi, hai..

Aku tau, seseorang dibiarkan datang dan kita kenal atau mengenal kita untuk mengajarkan bahwa tidak ada pertemuan yang sia-sia atau sesuatu terjadi karena ada alasan. Begitu juga aku, kamu, bukan kita.

Aku ingin mengenangmu, sebagai seseorang yang ku kagumi karena senyummu.

Aku ingin mengenangmu, sebagai seseorang yang ku kagumi dan pernah ku kenal digedung itu.

Aku ingin mengenangmu dalam kenangan yang baik.

Tidak untuk hari kemarin dan hari ini. Aku menganggap itu  bukan hari aku dan kamu.

Cukup, cukup beberapa bulan yang lalu kenangan itu yang ku simpan dalam sudut-sudut diruang pikiranku. Aku ingin mengenangmu sebagai lelaki baik yang menghargai wanita, kau kenal ataupun tidak, dekat ataupun biasa. Aku ingin mengenangmu dalam sebaik-baik ingatan.

Kamis, 27 Agustus 2015

Dia di Bulan Agustus

Menurutmu ? :) 
Harusnya Ada Pesta

Lima tahun, Dir lima tahuuuun. Terus ketemu cuma bisa liatin dia doang sambil pelanin langkah kaki dengan mata yang gak berkedip bener-bener merhatiin dia.

Lima tahun, Dir lima tahun. Lima tahun yang lalu semua dikacauin yang penyebabnya, dia.

Lima tahun, Dir, lima tahun. Lima tahun yang lalu sampe lo mikir diri lo butuh berbagi dan cerita dengan psikiater. Karena dia.

Lima tahun, Dir, lima tahun. Lo nemuin orang yang buat lo gak butuh orang lain lagi (gak masuk itungan keluarga lo). Satu-satunya orang yang bener-bener bikin lo nyaman karena itu dia. Bukan siapapun sampe hari itu dateng.

Lima tahun, Dir, lima tahun. Lima tahun yang lalu dia yang akhirnya bisa ngisi kosongnya itu. Anak perempuan yang baru ditinggal kakanya. Tempatnya. Segala-galanya. Terus tiba-tiba dia dateng, Dir. Ngisi bangku kosong itu dan ngebersihinnya lagi (sebelum dia tinggalin dan bangkunya hampir dibuat patah).

Lima tahun, Dir lima tahun. Berdoa berharap ketemu di tempat yang sudah pasti ada dia.

Tapi hari ini, Dir. Setelah lima tahun, Dir setelah lima tahun. Dia dateng lagi, Dir. Kali ini bukan lagi caranya dia nulis pesan, bukan lagi dalam terjemahan ketika rapi rangkaian huruf masuk ke ponselmu.

Setelah lima tahun, Dir setelah lima tahun. Dia dateng. Tepat didepan matamu, Dir. Bisa kamu lihat tanpa harus membayangkan bersama balasan pesannya. Dia depanmu. Sedang berjalan. Lalu perlahan, langkahmu melambat. Matamu benar-benar terkunci akan sosoknya. Yang detik kemudian dia lewat begitu saja..

Dir! Kenapa kamu cuma liatin aja? Kenapa kamu gak tegor dia? Sapa, Dir sapa! Kamu gak lupa kan caranya menggerakkan pita suaramu? Dir, dia sudah lewat. Lewat begitu aja, Dir. 

Lima tahun!

Harusnya ada pesta, Dir. Harusnya banyak balon-balon dan tepuk tangan yang banyak ketika dia lewat dihadapanmu, Dir. Harusnya! Tapi itu bukan harus-Nya.

Lima tahun yang lalu bukan waktu untuk harapanmu, Dir. Setelah lima tahun ini. Hari ini, Dir jawabannya.  Dia datang. Dia yang pernah kau buat jengkel. Dia yang pernah menyarankanmu untuk memilih jurusan. Dia juga yang pernah bilang ke kamu, Dir sebuah kalimat yang selalu ada dikamarmu, Dir. Dia juga yang pernah menjadi medan magnetmu, Dir.

Dia yang lima tahun lalu dan setelah lima tahun. Dia yang hari ini.