Sabtu, 27 September 2014

Aku dalam Semestaku

Menurutmu ? :) 
Mungkin pada jarak yang ku perkirakan dengan tempuhan setengah jam bila mengendari sepeda motor, kamu sedang sibuk-sibuknya dengan tugas-tugas yang tak pernah mentolerir pukul berapa kini, ia hanya kenal untuk diselesaikan. Tadi tak sengaja ku temui sosokmu yang sedang hangat-hangatnya bercengkrama dengan komputer jinjing di era milenia ini. Dengan emot yang melambangkan lelah teramat kamu memposting itu seakan gambaran yang sedang kau hadapi detik itu juga. Kau lucu, seperti baru sehari mengenal sistem di negara kita ini.

Dan lewat dunia kacamu, hari ini ku menyadari sesuatu. Kau banyak yang memperdulikan. Sedikit perasaan senang karena akhirnya kalimatmu yang mengatakan banyak yang care to you, it's really happen. Begitu banyak yang men'cintai' apapun postinganmu termasuk ketika kau memberitahukan pada dunia bahwa kamu telah beranjak dari alam mimpimu dan mereka semua rata-rata perempuan cantik. Sedang aku, hanya sepasang mata yang menyaksikanmu dari jarak sini, terkadang menyunggingkan senyum, terkadang membentuk masam. Lagi dan lagi jarak, menggelitik memang. Semakin ingin ku berlari semakin jarak mendekatkan. Hm sebenarnya ini bukan masalah karena setelah tindakanku bulan lalu, kau bersikap begitu berbeda, lebih dewasa dan memilih untuk tetap mengenalku.

Maaf, karena tanpa perizinanmu, ku ukir nama panggilan yang ku khusus kan untukmu. Mereka yang mengetahui hanya mentertawakanku, tergelitik melihat tingkahku. Kelewat bataskah? Entah. Aku hanya melakukan apa yang menyenangkan untukku. Tapi aku bukan psikopat seperti film drama korea yang baru ku tonton seminggu yang lalu. Yang menayangkan bahwa si murid perempuan tergila-gila dengan guru olahraganya hingga berbuat apapun agar dia bisa memiliki utuh pria idamannya. Seperti juga lagu pria bersuara syahdu Tulus-Mengagumimu Dari Jauh. Iya, cukup dari jarak dan cara yang aman serta tak menggagumu aku meluapkannya. Mengagumimu dari jauh. Menjagamu. Memelukmu tanpa memelukmu. Itu aku. Ini caraku yang tanpa kamu bahkan pernah tahu.

Maaf untuk segala kelancanganku mengikutsertakanmu dalam kebahagiaanku tanpa izinmu dulu. Semoga tidak berlanjut. Semangat dengan tugas yang mulai tak manusiawi.

Rabu, 23.53

Kamis, 18 September 2014

Maukah Kau Menunggu ?

Menurutmu ? :) 
Sekarang aku baru semester tiga. Hampir setengah jalan ku lalui di jenjang yang buru-buru ingin ku lewati. Sudah terlalu lama ku mengabaikanmu, mengabaikan kesempatan untuk mengenal lebih tentangmu. Pagi ini aku baru mengenal salah satu sahabatmu, salah satu pengagummu yang mengagumkan. Bung Fiersa, sapaannya. Jujur, aku kembali semakin jatuh cinta denganmu. Niatku semakin lebih naik ketika salah satu pengagummu menceritakkan sosokmu lebih lagi dari yang ku tahu.

Satu setengah tahun lagi kurang lebih. Ku ingin mengikuti langkahnya. Tapi, anganku sempat dibuat bingung, apakah kamu bisa menunggu? Sehari pun bisa menjadi sangat lambat untuk menunggu apalagi ini tiga ratus enam puluh lima hari ditambah enam bulan dikali tiga puluh hari. Aku takut, takut kamu tak bisa menunggu terlebih waktu tidak berpihak pada kita, padaku yang semakin jatuh cinta dan penasaran akan pesonamu.

Entah, akan terwujud atau tidak. Semoga iya. Aamiin. Akhir tahun ini aku ingin menemuimu. Aku sudah mendapatkan ijin dari mereka walau belum sepenuhnya. Tapi bisa ku pastikan aku akan mendapatkannya. Tunggu aku. Semoga semesta milikku. Aamiin. Akan ku abadikan sesuatu bersejarah itu, dalam bentuk apapun

Dari pengagummu yang lebih dari kagum yang kini berada diantara gedung-gedung pencakarmu.

Senin, 25 Agustus 2014

Tak Perlu Ada Yang Berubah

Menurutmu ? :) 
Tak Perlu Ada Yang Berubah

Setiap hal selalu mempunyai dua sisi seperti uang logam. Dan setiap tindakan selalu ada feedbacknya. Hukum alam.

Dua puluh satu, delapan, bulan tanpa matahari. Terima kasih.

Aku pernah membaca suatu kalimat dalam novel "seberat apapun itu, sepahit apapun, ungkapkan saja" dan "yang orang dewasa butuhkan adalah keberanian". Mungkin aku belum sepenuhnya dikatakan sebagai manusia dewasa, tapi setidaknya aku sudah membuktikan kalau aku mempunyai keberanian. Termasuk dua malaikat yang selalu menyentil aku dengan kalimatnya "kalau sayang sama orang itu bilang, jangan dipendam sendiri". Dan ternyata memang nyatanya ini tentang sebuah keberanian. Keberanian memendam atau mengungkapkan. Menjadi pecundang yang hanya diam memandang atau bukan.

Menurut salah satu buku lainnya yang pernah ku baca, menulis adalah self therapy tersendiri bagi yang menulisnya. Dan menurutku itu benar. Aku menulis maka aku merasa. Aku menulis maka aku ada. Entah.

Terima kasih selama ini telah menjadi alasan ku untuk tetap menulis. Membekukan momen dalam setiap rangkaian abjad. Aku menyadari selalu ada puan-puan baru yang akan menggantikan puan yang lama dalam setiap kisah. Termasuk kisahmu.

Tak perlu ada yang berubah. Semoga kenyataan seperti itu.

Sebuah kalimat yang menyadarkan bahwa aku bukan anak perempuan pada tujuh tahun yang lalu.