Senin, 25 Agustus 2014

Tak Perlu Ada Yang Berubah

Tak Perlu Ada Yang Berubah

Setiap hal selalu mempunyai dua sisi seperti uang logam. Dan setiap tindakan selalu ada feedbacknya. Hukum alam.

Dua puluh satu, delapan, bulan tanpa matahari. Terima kasih.

Aku pernah membaca suatu kalimat dalam novel "seberat apapun itu, sepahit apapun, ungkapkan saja" dan "yang orang dewasa butuhkan adalah keberanian". Mungkin aku belum sepenuhnya dikatakan sebagai manusia dewasa, tapi setidaknya aku sudah membuktikan kalau aku mempunyai keberanian. Termasuk dua malaikat yang selalu menyentil aku dengan kalimatnya "kalau sayang sama orang itu bilang, jangan dipendam sendiri". Dan ternyata memang nyatanya ini tentang sebuah keberanian. Keberanian memendam atau mengungkapkan. Menjadi pecundang yang hanya diam memandang atau bukan.

Menurut salah satu buku lainnya yang pernah ku baca, menulis adalah self therapy tersendiri bagi yang menulisnya. Dan menurutku itu benar. Aku menulis maka aku merasa. Aku menulis maka aku ada. Entah.

Terima kasih selama ini telah menjadi alasan ku untuk tetap menulis. Membekukan momen dalam setiap rangkaian abjad. Aku menyadari selalu ada puan-puan baru yang akan menggantikan puan yang lama dalam setiap kisah. Termasuk kisahmu.

Tak perlu ada yang berubah. Semoga kenyataan seperti itu.

Sebuah kalimat yang menyadarkan bahwa aku bukan anak perempuan pada tujuh tahun yang lalu.

Minggu, 17 Agustus 2014

(Bukan) Takut Kehilangan

Lagi-lagi dan lagi dan mungkin akan lagi tentangmu yang akan terus menjadi tokoh utama dalam setiap keberanianku menggenggam dalam tulisan.

Entah, sudah berapa banyak air mata yang tumpah disertai rasa sesak didada untuk minggu ini yang akan kamu gak pernah tau. Sebenarnya aku juga lelah mengumpat pada rasa yang berujung cuma pada air mata.

Ini tentang berani menyampaikan atau berselimut pada takut "kehilangan". Haha kehilangan? Padahal dulu hal itu pernah terjadi meski penyebabnya bukan. Jadi jelas disini bukan aku takut kehilangan tapi apa? Aku juga tidak tau. Tidak tau apa yang sebenarnya aku pertahankan untukmu? Rela menangis atau menahan sesak.

Tak berani mengungkapkan? Karena takut kehilangan?
Bukan, bukan itu juga menurutku. Lantaa PPa? Aku juga selalu berpikir tentang mengungkapkan atau memendam. Terkadang tidak ingin menjadi pengecut yang ada dibalik keinginan untuk mengungkapkan. Tetapi dilain hal, aku ingin menjadi Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib yang keduanya tak pernah mengungkapkan tapi berujung penyatuan. Dan aku juga sadar, aku dan kamu bukan mereka. Ya aku tau itu.


Aku takut menyesal. Iya itu yang aku takuti sebenarnya. Aku takut ketika keberanian mendorongku mengungkapkan taunya rasaku adalah semu. Sebuah obsesi anak berseragam putih abu-abu pada teman sekelasnya. 

Kamis, 14 Agustus 2014

Kau Datang Lagi

Terlalu banyak asa yang tersimpan dalam dada yang bahkan tak bisa ku jelaskan secara inci perinci. Terlalu menancap dan terpatri telah begitu lama. Ketika ku mulai lelah menunjukkan kau datang kembali melambaikan. Ketika ku ingin berhenti menetap padamu, kau bilang ingin bertemu.

Aku tidak tahu benar-benar tidak tahu macam rasa apa yang ku rasa malam ini, semenjak deretan kalimat-kalimatmu yang entah apa tujuan utamanya. Ada sedikit sesak disini. Lalu tiba-tiba turun hujan begitu saja. Aku lelah. Aku ingin berhenti darimu; semua tentangmu. Tapi tiba-tiba kamu datang dengan percaya dirinya takkan ku tolak permintaanmu.

Malam ini, aku ingin berteriak sekencang-kencangnya (meski lewat tulisan) agar apapun yang menyumbat dan menghambat dapat keluar bebas bersama suaraku.

Untuk kamu, pria yang mengirimiku pesan 35 menit yang lalu. Maaf pesanmu belum ku balas. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan bila memang itu terjadi beberapa detik kemudian, aku terlalu egois untuk mengiyakan.

Sekarang aku baru paham, seberapa keras tekad ku bila denganmu itu menjadi goyah. Seberapa emosinya aku ketika mengetahui ini itu yang pahit, bila menatap mata itu seketika semua luntur.

Untuk kamu, pria yang berawalan huruf keempat. Tolong tegaskan rasa ini apa dan bawa pergi bersamamu tanpa kembali padaku.

Dari perempuan yang hingga detik ini belum mampu meyakinkan hati bahwa bukan kamu. Meski telah bermacam-macam alasan.